“Saat itu aku iseng-iseng mengikuti lomba Miss Photogenic dan gak disangka ternyata juara 2. Dari situ aku mulai pelan-pelan terjun menggeluti dunia model dan kenal beberapa fotografer dan temen-teman model lainnya,” kenang Caca, demikian biasa Tasya dipanggil, membuka obrolan dengan Amoplus.
Ya, walaupun iseng, talenta perempuan berusia 25 tahun ini sebenarnya sudah terasah sejak kecil. “Jujur, dari aku suka foto-foto dan dari kecil aku pengen banget jadi model. Cuma karena dulu masih minim informasi jadi susah,” lanjutnya mengenang.
Saat ini Caca pun mengeluti dunia yang disukainya dengan lebih serius lantaran menyenangkan.
“Ya, senengnya jadi model itu ketemu banyak fotografer dengan selera foto dan konsep yang berbeda-beda, terus kenal sama model model lainnya juga,” ungkap Caca. Tentunya, banyak hal yang dia temui dan alami selama di dunia model. “Hal yang gak pernah aku lupakan selama jadi model, aku pernah berjuang cari uang sendiri buat sekolah model, collab sana sini buat portofolio, rela dibayar murah karena masih terbilang baru terjun di dunia permodelan sampe akhirnya aku bisa punya rate harga sendiri sekarang, hehe,” ungkap perempuan yang sebenarnya sejak kecil bercita-cita menjadi pramugari, tapi karena waktu sudah dewasa dia mengidap anxiety disorder dan takut naik pesawat, akhirnya pupus harapan dan cita citanya.
Suka duka jadi model memang menjadi keseharian Caca. “Sukanya seru kerja gak terlalu tegang karena cuma foto foto. Dukanya encok haha badan sering sakit sakit kalo abis foto apalagi dengan pose yang meliuk-liuk. Dukanya juga sering dipandang negatif sama orang-orang,” paparnya.
“Jadi model itu pekerjaan yang flexible waktunya, jadi bisa istirahat sesuai moodku kalau sewaktu-waktu lagi sakit. Kalo kerja di kantoran atau pekerjaan tetap kan susah ijin sakitnya haha,” tambahnya.
Bagi Caca, menjadi model tetap lebih banyak sukanya dan dia akan menjalaninya terus hingga “masanya” habis. Selama ini dia menjalani pekerjaannya pun dengan hati dan tak ada tips khusus. ” Yang penting Pede aja kalau jadi model photoshoot, harus pede di depan kamera dan luwes. Kalo jadi model catwalk harus punya mental yang bagus biar ga demam panggung waktu tampil,” jelasnya.
Selain model, perempuan cantik yang juga penggemar drakor ini kesehariannya bekerja sebagai Usher Event. Artinya, pekerjaannya terbilang padat, terutama saat banyak event.
Terkait kehidupan asmara, Caca mengaku merasakan “cinta monyet” sejak duduk di bangku SMP kelas 1 dan kini sudah memiliki pasangan.
“Punya pasangan yang setara dan satu darah Manado hehe,” ungkap Caca yang juga berdarah Manado walaupun berasal dari Bandung. Dalam hal asmara, dia memang memasang kriteria “ketat”. “Tipe cowokku itu yang jelas harus punya provider mindset, gak mokondo, gak patriarki dan memperlakukan aku sebaik mungkin,” urai Caca yang mengaku lebih suka cowok lokal ketimbang bule. “Susah komunikasinya dan bule itu kebanyakan php doang, ” jawab Caca saat ditanya mengapa gak suka cowok bule. Hal lain yang diperhatikan Caca terhadap cowok idealnya adalah wajah, penampilan, watak, kelakuan, dan pekerjaan. Lumayan banyak ya perhatiannya, mungkin in lantaran dirinya yang mengaku suka dimanja. “Ya, diperlakukan seperti princess dan seperti anak kecil hehe,” ungkap Caca yang mengisi waktu bareng pasangan dengan nongkrong dan makan bareng.
Selain model dan urusan kecantikan plus pasangan, Caca pun sangat suka car audio. “Aku suka dengerin lagu di mobil jadi kalau car audionya bagus semakin enak didengar juga lagunya,” jelas Caca yang mengaku suka musik apapun. “Yang penting lagunya enak didenger atau relate sama kehidupan, itu aku suka,” jawabnya.
Menutup obrolan, Caca menyampaikan harapan. Harapannya, ke depan, dia bisa memiliki usaha kos dan salon kecantikan. Semoga ya Ca!















No comments so far.
Be first to leave comment below.