Amoplusmagz
Andreas Tjahjadi, CEO PT Audio Plus Indonesia : “Kepuasan Itu Tidak Dapat Dibeli” Andreas Tjahjadi, CEO PT Audio Plus Indonesia : “Kepuasan Itu Tidak Dapat Dibeli”
Kini, sedikitnya 3 dekade, Andreas berkiprah di dunia car audio dan eksistensinya tetap akan dia jaga. "Pernah terpikir untuk pensiun, tapi masukan dari mentor... Andreas Tjahjadi, CEO PT Audio Plus Indonesia : “Kepuasan Itu Tidak Dapat Dibeli”

Andreas Tjahjadi, CEO PT Audio Plus Indonesia : “Kepuasan Itu Tidak Dapat Dibeli”

Jakarta, amoplusmagz.com – Saat ini, Crescendo yang hadir dengan pilihan produk speaker, amplifier, dan subwoofer menjadi salah satu brand yang makin lekat  di hati kalangan pecinta audio mobil. Tak hanya di Indonesia, bahkan mancanegara. Begitu pula dengan brand kabel Harmonic Harmony.

Dua brand ternama tersebut menjadi lokomotif kehadiran beberapa brand ternama lain seperti Ground Zero, Silent Coat, Audio Wave, Clio, Tchernov cable yang didistribusikan PT Audio Plus Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pecinta audio mobil, khususnya di Indonesia. Pencapaian dari kiprah panjang PT Audio Plus Indonesia tersebut tentunya tak lepas dari peran sang CEO, Andreas Tjahjadi.

Andreas Tjahjadi - amoplusmagz
Oops...
Slider with alias cuteslide2 not found.
Oops...
Slider with alias runslide2 not found.

Andreas Tjahjadi lahir dan besar di Malang, Jawa Timur. Sejak kecil suka musik dan serius belajar musik terutama instrumen musik seperti piano dan aktif dalam orkestra. Kecintaannya terhadap musik itu pula yang melekatkan kecintaan dirinya lebih kuat terhadap dunia audio mulai dari home audio, pro audio, hingga car audio. Dalam perjalanannya, car audio lah yang dipilih Andreas untuk diseriusi dan menjadi dunia kerja.

Menurut Andreas, saat SMP, dirinya pertama kali memasang car audio. Tentunya saat itu, yang pasang adalah orang toko audio. Sampai SMA, beberapa kali dia mengganti car audio miliknya.

Selepas SMA tahun 1991, Andreas kuliah di Teknik Sipil ITB, Bandung, Jawa Barat. Di kota inilah, Andreas pertama kali memasang sendiri car audio.

“Awalnya, saat masang di toko merasa kurang bagus, terus mengganti speakernya, lho kok hasilnya lebih bagus, kemudian ganti amplifier dan seterusnya,” kenang Andreas  yang saat itu sering  mencari dan belanja komponen car audio bekas di kawasan Cikapundung, Bandung, untuk dipasang di mobil hariannya, Katana. “Zaman itu, 3 hari 2 malam tanpa tidur, bikin (sistem car audio) satu mobil selesai,” candanya.

Selama di Bandung pula Andreas banyak mengasah ilmu dan keterampilan terkait car audio. “Saya banyak belajar dari seorang senior di Bandung,” ungkap Andreas. Dari sang senior merangkap mentor tersebut, Andreas belajar banyak mulai dari nyolder komponen, bikin pilar, boks, perkabelan (wiring) , hingga bungkus (finishing).

“Saya sering bantu pekerjaan beliau dan dapat ilmu secara gratis,”  tambahnya. “Sudah almarhum dan merupakan salah satu sosok jago dalam dunia audio,” jelasnya.

Selepas lulus kuliah tahun 1995, Andreas pindah ke Jakarta dan membuka usaha toko audio d kawan Green Garden, Jakarta Barat.

Tahun 1999, Andreas meningkatkan usahanya dengan menjadi distributor pemegang merk dan tahun 2004, dia mempunyai produk car audio dengan merek sendiri.

 

Kontes Audio

Sembari tetap menjalankan roda usaha, tahun 2003, Andreas menggelar kontes car audio bertajuk Indonesia Auto Contest dengan juri Fajar dan Teguh yang kemudian kerapkali menjadi juri di berbagai kontes car audio. Setelah itu, Andreas  dan tim pun memilih menjadi peserta dan mengikuti berbagai kontes yang dimulai pada tahun 2004.

“Tahun 2004, bangun (car audio) Kijang kapsul dari anggaran 10 juta hingga 60 juta saat itu, berlanjut mobil KIA Carens, Honda Grandis, Inova, Jazz, hingga Alphard. Hasilnya, menang terus hingga 26 kali,” ungkapnya. Namun, aktivitas bisnis yang terus meningkat membuat Andreas juga harus “mengerem” mengikuti kontes. Tahun 2020, Andreas pun mengurangi intensitas kompesisi walaupun di berbagai kompetisi seperti EMMA Asia 2019 masih meraih banyak gelar juara.

Eksis dengan Crescendo dan Beberapa Brand Ternama

Selama kurun waktu 1995 saat awal dia buka toko hingga sekarang saat dia memiliki brand sendiri sejak tahun 2004 dan memegang hak distribusi beberapa brand ternama tentunya banyak pengalaman sebagai bagian suka dan duka yang dialami dalam dunia car audio.

“Sukanya, saat sistem car audio yang dipasang bikin orang merasa puas dan memberikan apresiasi. Kepuasan itu tidak bisa dibeli. Dukanya, juga ada,” papar Andreas yang pernah mengalami banyak kejadian yang menjadi pelajaran berharga ke depan seperti saat menjadi distributor, dia bersusah payah membangun merk dan pas merk mulai dikenal, hak distribusi dipindahkan ke orang lain. Andreas yang selalu mendidik staf atau karyawannya dari nol, terkadang juga harus rela melepas karyawannya setelah terampil dan pindah ke tempat lain, bahkan menjadi kompetitor.

Selain menjalani aktivitas pekerjaan sebagai CEO,  Andreas masih terus menimba ilmu dengan cara rutin menggelar pertemuan dengan konsultan, mentor dari luar sebagai mitra diskusi, mengikuti training, juga memberikan training.

Belajar tanpa henti dan komitmennya yang tinggi terhadap car audio membuat produk dan namanya tak hanya dikenal di dunia car audio Indonesia juga mancanegara. Puncaknya, pada tahun 2019, Andreas yang masih memiliki sistem home audio dan pro audio canggih sebagai bagian dari hobinya mengulik audio memberikan training di 9 negara.

“Setiap training diikuti sekitar 40 top installer di setiap negara,” jelasnya sembari menyebut beberapa negara yang disinggahi sebagai lokasi training seperti Korea Selatan dan Thailand.

Kini, sedikitnya 3 dekade, Andreas berkiprah di dunia car audio dan eksistensinya tetap akan dia jaga. “Pernah terpikir untuk pensiun, tapi masukan dari mentor dan banyak detail teknis  yang masih belum bisa dijelaskan lebih rinci dan jelas oleh orang lain ya bikin susah pensiun,” ucapnya sembari tertawa. Selain itu, Andreas pun mengakui banyak hal yang bisa dipelajari dari audio dan itu memberinya banyak hal yang bisa menjadi bagian R & D produk.

Dia pun mengingatkan diri dan orang lain untuk terus belajar. Terlebih lagi bila ingin menjadi expert di bidang car audio. “Ya semakin kita belajar, kita semakin merasa dungu.”

Bagi Andreas, expert is another thing. “Pake expertise, untuk penunjang bisnis,” tutupnya.

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *