Amoplusmagz
Sandy Wuntoro Founder Sterindo Autosound : “Be Smart  Buyer, Be Smart Customer” Sandy Wuntoro Founder Sterindo Autosound : “Be Smart  Buyer, Be Smart Customer”
"Dulu, waktu gue masih kerja, gue ngerjain instalasi sampe larut malam. Tiba-tiba sekitar jam 11 malam, dia lewat dan kaget, gue masih ngerjain mobil... Sandy Wuntoro Founder Sterindo Autosound : “Be Smart  Buyer, Be Smart Customer”

Sandy Wuntoro Founder Sterindo Autosound : “Be Smart  Buyer, Be Smart Customer”

Jakarta, amoplusmagz.com – Bicara soal dunia car audio di Jakarta, bahkan nasional tak lengkap kiranya bila tak menyebut Sterindo Autosound yang saat ini bermarkas di kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan. Kehadiran gerai audio yang lebih dari dari satu dekade ini memberi warna tersendiri dalam dunia car audio. Tentunya, setiap kali bicara Sterindo Autosound juga bakal tak lengkap bila tak menyebut sosok sang founder, Sandy Wuntoro.

Sterindo-Autosound-amoplusmagz
[rev_slider_vc alias=”cuteslide2″][rev_slider_vc alias=”runslide2″]

Sosok ramah dan selalu bersemangat saat bicara soal dunia car audio ini mendirikan Sterindo Autosound pada tahun 2008. Awalnya, Sandy membuka Sterindo Autosound di kawasan Radio Dalam, setelah sebelas tahun beroperasi di sana, tahun 2019, Sandy memindahkan Sterindo Autosound ke kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan. Artinya, sudah sekitar lima belas tahun, Sterindo Autosound hadir dan memberikan layanan jual produk car audio dan instalasi car audio. Tentunya, bukan sebuah perjalanan yang mulus dan mudah.

“Gue pertama kali maen speaker di kamar gue waktu SMA. Waktu dapat angpao pas Imlek, gue beli speaker dan gue pasang, ” kenang Sandy membuka obrolan bareng Amoplus di kantor Sterindo. “Gue bikin boks (speaker) pake kaca,” tambahnya,

Dari situ, Sandy mulai rajin mengotak-atik dan memasang sistem car audio yang diawali dari mobil orang tua hingga mobil teman ayahnya. Berbagai toko dan gerai penjual speaker dan perangkat audio pun dia datangi, mulai dari kawasan Glodok, Jakarta Pusat hingga Taman Puring, Jakarta Selatan.

“Buat nimba ilmu, sambil kuliah tahun 1996 gue nyambi kerja  di daerah Grogol. Gue kerja di sebuah toko yang ada nama dan ada ilmu. Gue kerja di toko Koh Tjandra ( Akian), jago cross over pasif, ” lanjut Sandy yang bekerja di toko tersebut selama tiga bulan . Kerja sambil kuliah bukan hal yang mudah bagi Sandy, bahkan orang tuanya pun keberatan karena masih mampu membiayai kuliahnya. Namun, itu tetap Sandy lakukan karena saking senang dengan car audio dan keinginan tinggi untuk memperdalam pengetahuannya. Setelah merasa mampu untuk melakukan instalasi secara mandiri, Sandy pun membuka gerai instalasi car audio di garasi rumah yang berukuran sekitar 3,5 x 5 meter. Tidak tanggung, dua mobil pertama yang ditangani saat itu adalah dua mobil mewah, BMW E46 dan Mercy SLK 230 coupe. “(Instalasi) Dua mobil itu sampai sekarang paling notice, paling warning untuk mobil-mobil customer, ” ungkapnya. Dari instalasi kedua mobil tersebut, seolah menjadi sebuah “standar” bagi Sandy untuk senantiasa hati-hati, teliti, dan jeli saat instalasi dan memperlakukan semua mobil customer seperti yang ia lakukan untuk kedua mobil mewah pertama pada eranya.

Sembari membuka gerai instalasi, Sandy kembali bekerja. Kali ini di Audio Plus, distributor perangkat car audio selama tiga tahun , lalu Sandy pindah ke Melodi Audio. Di gerai ini pun, Sandy bekerja sekitar tiga tahun lamanya.

Setelah merasa cukup bekerja di beberapa gerai audio, kisaran tahun 2007-2008, Sandy pun bertekad membuka gerai audio sendiri dan dia pun mengincar salah satu kios di  MGK Kemayoran.

Belum sempat dia ambil sewa tempat di MGK Kemayoran, mendadak dia mendapat telpon dari salah seorang customer yang menawarinya untuk sewa ruko di kawasan Radio Dalam. Tawaran itu tentu menyenangkan sekaligus membingungkan. Menyenangkan, ruko pastinya lebih besar dan nyaman Ketimbang kios, membingungkan, ruko pastinya lebih mahal sewanya dan uang yang ada belum cukup untuk menyewa ruko.

“Customer saya minta saya jangan dulu bayar sewa tempat di MGK. Dia minta gue segera nemui dia dan gue temui,” jelas Sandy.

Setelah bertemu, Sandy diajak kerja sama oleh sang customer untuk membuka gerai audio di ruko tersebut dan tawaran itu pun disanggupi. Maret 2008, gerai audio itu pun dibuka dan diberi nama Sterindo yang merupakan akronim dari Stereo Indonesia. Baru tiga bulan, Sterindo beroperasi, sang customer partner Sandy meminta Sandy untuk melanjutkan Sterindo sendiri. “Rupanya, dia memang mengajak bekerja sama untuk membantu gue bisa membuka gerai audio di ruko,” lanjut Sandy yang benar-benar berterima kasih atas ketulusan hati sang customer yang bernama Kekei. Bagi Sandy, hal ini bukanlah keberuntungan semata. Namun, efek dari sebuah komitmen sebuah pekerjaan yang ia lakoni.

“Dulu, waktu gue masih kerja, gue ngerjain instalasi sampe larut malam. Tiba-tiba sekitar jam 11 malam, dia lewat dan kaget, gue masih ngerjain mobil dia,” kenang Sandy. “Gue memang berprinsip I’m not The Best, tapi Gue akan lakukan yang terbaik bagi customer,” tambahnya.

Sebelas tahun berkantor di Radio Dalam, Sandy pun harus pindah. Ini dipicu harga sewa ruko yang mendadak naik tinggi. Saat bingung mencari tempat baru, dia melintasi jalan H. Nawi dan melihat sebuah ruko dengan plang bertuliskan dijual. Karyawannya yang ikut bareng Sandy saat melintas malah memintanya untuk turun dan mampir melihat. Keraguan pun menerpa dirinya, bagaimana membeli, membayar sewa yang naik tinggi aja dia sudah berat. Namun, akhirnya dia mencoba untuk mencari tahu dengan menemui pemilik. Setelah bertemu dan menyampaikan ketertarikannya, tapi uang terbatas, sang pemilik ruko rupanya memberikan banyak kemudahan sehingga Sandy bisa memiliki ruko tersebut yang mulai dijadikan markas Sterindo sejak tahun 2019 hingga sekarang.

Perjalanan panjang Sandy bersama Sterindo memang mengalami pasang surut dan penuh dinamika. Namun, apapun dinamikanya, Sandy selalu berusaha menikmati dan mensyukuri.

 

Instalasi dan Kompetisi

Saat instalasi dan kompetisi, Sandy dan tim senantiasa berupaya memberikan yang terbaik. Dalam era digital yang kerapkali menempatkan social media sebagai garda depan promosi, Sandy mengingatkan kepada customer untuk selalu menjadi smart customer. “Customer jangan liat casing. Harus jadi smart customer,Pakai barang mahal kalau instalasi gak bener, hasilnya juga gak bener,” ujar Sandy.

Terkait kompetisi, Sandy mengaku bila untuk kompetisi, Sterindo ada tim khusus. Sandy yang sering dan lama mengikuti berbagai kompetisi audio dan meraih banyak penghargaan, salah satunya national champion mengakui pernah ada masa yang menempatkan dia vakum untuk berkompetisi. “Vakum dari 2018 dan baru mulai ikut lagi tahun 2022,” ungkap Sandy yang saat itu merasa ada hal yang kurang sreg dalam hati terkait penjurian, bahkan dirinya sempat mengalami diskualifikasi. Untuk itu, Sandy mengingatkan agar setiap event kompetisi bisa memilih juri terbaik yang sejatinya bisa memberi  banyak hal untuk belajar. “Jangan sembarang ambil juri. Menang kalah itu biasa. Kita mau belajar,” imbaunya.

Sandy pun melihat hari ini dan ke depan, car audio Indonesia bertambah maju.

“industri bagus, perkembangan bagus. Gerai yang tutup ada, tapi yang muncul lebih banyak, ”  jelasnya. Karenanya, Sandy pun berharap dia dan Sterindo tetap eksis mewarnai dunia car Indonesia sembari tetap menebarkan kepuasan  terhadap customer. “Gue paling suka customer bilang, pak, saya puas. Gua happy ada customer yang terus memvideokan car audionya (karena puas dengan hasilnya),” tutup Sandy.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *