The Sound Architect – Perjalanan Ericsson Membangun Reputasi sebagai Expert Sound Quality
Expert Say 30/10/2026 admin 0
The Sound Architect – Perjalanan Ericsson Membangun Reputasi sebagai Expert Sound Quality
Jakarta amoplusmagz.com – Bagi sebagian orang, car audio adalah bisnis. Namun bagi Ericsson, car audio adalah perjalanan hidup yang dimulai jauh sebelum istilah DSP, tuning digital, dan audio hi-res menjadi tren seperti sekarang. Kecintaannya terhadap dunia audio sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP pada tahun 1991, ketika sebagian besar teman sebayanya menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bermain, sementara dirinya justru lebih senang berada di toko audio milik orang tuanya.
“Pulang sekolah, main ke toko bokap, liatin, bantuin, ngoprek,” kenang Ericsson sambil tersenyum. Ketertarikan terhadap elektronik membuatnya betah berjam-jam memperhatikan proses instalasi, mempelajari jalur kabel, hingga memahami bagaimana sebuah sistem audio dapat menghasilkan karakter suara yang berbeda hanya dari perubahan kecil pada instalasi maupun tuning.
Lingkungan keluarga menjadi universitas pertamanya. Ia tumbuh bersama toko audio keluarga bernama Maras sebelum kemudian membantu usaha pamannya, Nurmaras, pada periode 1998 hingga 2000. Toko tersebut dikenal luas di kalangan pecinta Sound Pressure Level (SPL) di kawasan Jakarta dan kini dikelola oleh sepupunya, Budi. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang membentuk pemahaman Ericsson mengenai karakter berbagai produk audio dan kebutuhan pelanggan yang sangat beragam.
Namun Ericsson bukan tipe installer yang hanya mengandalkan pengalaman lapangan. Ia juga belajar secara otodidak dari berbagai sumber. Salah satunya majalah car audio asal Australia yang saat itu menjadi referensi utama industri. Dari halaman demi halaman majalah itulah ia mempelajari desain boks, teknik molding, hingga filosofi instalasi kelas kompetisi. “Saya suka karena bisa berkreasi. Bikin boks, cetak molding, semuanya saya kerjakan sendiri dan belajar sendiri,” ujarnya.
Tahun 2003 menjadi titik penting dalam kariernya ketika ia memutuskan membuka workshop sendiri bernama Simphony di kawasan Muara Karang, Jakarta Utara. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya yang banyak bermain di SPL, Simphony lebih fokus pada Sound Quality (SQ), sebuah aliran yang mengejar reproduksi musik seakurat mungkin, menyerupai pengalaman mendengarkan sistem home audio premium di ruang keluarga.
Perjalanan kompetisinya dimulai saat membangun sistem audio pada sebuah Honda Civic FD1 untuk kategori SQ.
Pada tahun 2006, Ericsson memberanikan diri mengikuti kompetisi pertamanya di Bandung. Persiapan menuju kontes tersebut justru menghadirkan salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang kariernya.
“Saya setting sampai jam satu dini hari, lalu tiba-tiba salah save dan semua setting hilang. Akhirnya mulai lagi dari nol dan baru selesai sekitar jam empat pagi sebelum berangkat ke Bandung,” ceritanya. Semua kerja keras tersebut terbayar manis ketika mobil tersebut berhasil meraih posisi runner-up pada kompetisi pertamanya.
Bagi Ericsson, kompetisi bukan sekadar soal piala atau gelar juara. Kompetisi adalah ruang belajar sekaligus sarana mengukur kemampuan diri sendiri.
“Menang kompetisi memang menyenangkan, tetapi yang lebih penting adalah ketika kita bisa membuat pelanggan tersenyum, baik di kelas budget murah, menengah, maupun kelas expert. Itu kepuasan terbesar,” katanya.
Menurut Ericsson, dunia car audio saat ini sudah berubah sangat jauh dibanding era 1990-an. Jika dahulu pilihan Digital Signal Processor (DSP) sangat terbatas dan hanya didominasi satu atau dua merek besar, kini pasar dipenuhi berbagai pilihan teknologi dengan kemampuan luar biasa.
Kehadiran marketplace juga mengubah pola bisnis karena pelanggan kini bisa membeli produk sendiri lalu mempercayakan instalasinya kepada workshop pilihan mereka. Namun satu hal yang tidak berubah adalah pentingnya kemampuan mendengar seorang tuner.
“Saya masih melatih pendengaran tiga kali seminggu. Kalau telinga sudah terlatih, instalasi di mobil apa pun hasilnya akan konsisten dan DSP apa pun bisa dimaksimalkan.”
Motivasi terbesar Ericsson hingga hari ini ternyata tetap sederhana: rasa penasaran. Ia ingin menghadirkan kualitas suara home audio kelas atas ke dalam ruang kabin kendaraan yang jauh lebih sempit dan penuh tantangan akustik. “Karena hobi dan passion. Saya punya akses mendengarkan speaker home audio yang sangat bagus. Tantangannya adalah bagaimana suara seperti itu bisa hadir di dalam mobil,” ujarnya.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade hidup bersama dunia audio, Ericsson masih menyimpan mimpi untuk membuka cabang baru dan membangun standar operasional yang kuat agar kualitas pengerjaan tetap konsisten. Ia juga mulai aktif di media sosial untuk berbagi pengalaman kepada generasi baru installer audio Indonesia Dan berjualan. Pesannya bagi anak muda yang ingin terjun ke industri ini terdengar sederhana namun relevan di segala zaman.
“Belajar bisa dari siapa saja. Yang penting harus punya usaha lebih, ambil sisi positifnya, jangan mudah menyerah, dan jangan pernah merasa paling hebat. Pada akhirnya, pelanggan selalu harus menjadi prioritas utama, dari pemula sampai kelas expert.”









No comments so far.
Be first to leave comment below.